Insiasi Kemitraan Bagi Peningkatan Kesehatan Pekerja Perempuan Di Kabupaten Sukabumi


Pada era milenial ini terjadi perubahan peluang kerja khususnya bagi wanita.  Wanita memiliki peluang besar untuk mengekspresikan dan berkarya serta meningkatkan aktualisasi diri serta membantu perekonomian keluarga.
Semakin banyak wanita bekerja maka banyak pula tantangan permasalahan yang dihadapi khususnya kesehatan reproduksi bagi wanita itu sendiri.  Di Kabupaten Sukabumi peningkatan peluang kerja bagi tenaga kerja wanita cukup banyak, seperti di kawasan industry besar seperti industri tekstil, PT Glostar Indonesia maupun PT Pratama yang juga memiliki jumlah pekerja wanita lebih dari 70% dari total keseluruhan pekerja.
Benarkah Tingginya jumlah Wanita bekerja di industry dapat menyebabkan masalah reproduksi?
Masalah lain yang ditimbulkan dari dampak tingginya pekerja perempuan di pabrik atau industri adalah berkaitan dengan kesehatan wanita pekerja terutama masa reproduksi dan saat memasuki kehamilannya. Pekerja Perempuan termasuk golongan yang rawan dalam masa kehamilan. Ada 33,25 % dari total pekerja adalah perempuan atau ada sekitar 6.385.554 pekerja perempuan di Jawa Barat. Menurut Hasil Riskesdas Tahun 2013, terdapat masalah gizi pada pekerja perempuan. Diantaranya yaitu: proporsi anemia kelompok umur 15-64 tahun berkisar antara 16,9-25%, dan proporsi Kurang Energi Kronis (KEK) pada WUS (Wanita Usia Subur) yang sedang hamil 17,3-38,5% dan tidak hamil 10,7-46,6%.
Kabupaten Sukabumi merupakan kabupaten dengan jumlah kematian Ibu dan Bayi baru lahir tertinggi dan merupakan urutan keempat terbanyak di Jawa Barat. Data Jumlah kasus kematian ibu tahun 2018 di kabupaten Sukabumi berjumlah 44 kasus dengan 19 (43%) kasus terjadi pada ibu bekerja. Selain masalah kematian ibu, jumlah kematian pada bayi baru lahir juga cukup tinggi yaitu 256 kematian yang menempatkan Kabupaten Sukabumi di urutan ketiga paling banyak di Jawa Barat. Hal ini menjadikan Sukabumi masuk daerah intervensi kesehatan ibu dan anak di Jawa.
Masalah kesehatan wanita bekerja adalah meningkatnya jumlah kejadian abortus, HIV AIDS, anemia pada ibu hamil karena konsumsi asupan gizi yang kurang sehingga rentan terjadi bayi berat badan lahir rendah/ BBLR dan perdarahan. Cakupan pemeriksaan kehamilan (K4) di Jawa Barat baru mencapai 64,31 % dan di Sukabumi 83,6% di tahun 2018.  ini berarti masih banyak ibu hamil yang tidak memeriksakan kehamilannya dan menyebabkan ibu hamil menderita KEK/kurang energy kronik sehingga berisiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah dan stunting. Untuk pekerja perempuan yang terkena anemia apabila dibandingkan dengan yang tidak anemia, produktivitas kerjanya 20 % lebih rendah, output kerjanya rata-rata 5% lebih rendah dan kapasitas kerjanya per-minggu rata-rata 6.5 jam lebih rendah (Scholz, dkk, 1997; Untoro dkk, 1998).
Selain itu banyak anak yang lahir dari ibu bekerja tidak memperoleh haknya untuk mendapatkan ASI ekslusif. Analisis data sekunder SDKI 2012, besarnya risiko ibu bekerja di Indonesia 1,816 kali  tidak dapat memberikan ASI ekslusif kepada anaknya (2 dari 3 ibu bekerja gagal memberikan ASI ekslusif kepada anaknya). Padahal menurut Undang Undang Ketenagakerjaan RI No. 13 Tahun 2003, Pasal 83: pekerja perempuan yang anaknya masih menyusu harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja.
Klinik perusahaan merupakan gerbang utama pekerja perempuan dalam mengakses pelayanan kesehatan. Sehingga perlu upaya untuk penguatan fasilitas kesehatan primer ini. Diharapkan tenaga-tenaga medis yang berada di jenjang Faskes Primer ini, memiliki kemampuan dan menguasai hal-hal terbaru mengenai prediksi, tanda, gejala, penegakan diagnosis dan penatalaksanaan komprehensif mengenai berbagai penyakit. Dan yang terpenting adalah kemampuan dalam hal pencegahan penyakit atau biasa disebut dengan penguatan Faskes Primer melalui fungsi promotif dan preventif.
Untuk itu diperlukan sebuah inisiasi kemitraan bagi peningkatan kesehatan pekerja perempuan di Kabupaten Sukabumi sehingga permasalahan kesehatan reproduksi pada wanita bekerja dapat dikurangi. Inisiasi kemitraan ini difasilitasi oleh tim Jalin USAID yang bergerak dalam upaya meningkatkan kelangsungan hidup ibu dan neonatal di Indonesia. USAID melalu Program Kesehatan Ibu dan Neonatal bersama-sama menjalin Pemerintah Indonesia (pusat dan daerah), sektor swasta, masyarakat sipil, dan para pemangku kepentingan lainnya untuk menggunakan bukti guna bersama-sama mendefinisikan ulang masalah, melakukan kreasi bersama hingga melakukan pembiayaan bersama terhadap solusi-solusi lokal yang berkelanjutan dan bisa ditingkatkan guna memperbaiki hasil dari upaya-upaya yang ada terkait kesehatan ibu dan neonatal.  
Jadi kegiatan kemitraan ini melibatkan semua stakeholder dari tatanan pemerintah daerah Provinsi Jawabarat, pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi, profesi, Dinas kesehatan dan jajaran, tim pokja penyelamatan ibu bayi di Kabupaten Sukabumi, foum masyarakat madani, manajemen perusahaan dan serikat pekerja serta dinas ketenagakerjaan baik pusat maupun kabupaten Suabumi.  Kegiatan yang dilakukan adalah sosialisasi dan sharing praktek GP2SP (Gerakan Pekerja Perempuan Sehat dan Produktif), Identifikasi Masalah Kesehatan Pekerja Perempuan dan Faktor Risiko Kesehatan di Kab. Sukabumi  serta proses penajaman solusi local melalui kemitraan bersama private sector agar mempu mengatasi masalah kesehatan pekerja perempuan.

Jadi, itulah sedikit penjelasan seputar pentingnya memerhatikan para pekerja perempuan. kegiatan inisiasi kemitraan Bagi Kesehatan Pekerja Perempuan bersama Jalin USAID di Kabupaten Sukabumi. Wanita adalah sosok yang kuat yang akan menjadi ibu melahirkan calon generasi masadepan berkualitas. Besar harapan masalah reproduksi pada wanita bekerja segera dapat diatasi dan ditangani bersama semua pihak. Program GP2SP akan penuis bahas kembali pada artikel berikutnya*****Dari Berbagai Sumber (Penulis Adalah pemerhati masalah Kesehatan Ibu dan Anak)

Serba Serbi Stunting



Stunting… akhir-akhir ini begitu hangat dan viral dibicarakan sebagai isu terkini kesehatan di Dunia termasuk Indonesia. Hampir semua orang dari mulai pemimpin negara hingga ke desa semua mulai konsen memerhatikan dan membantu pencegahan terhadap stunting.
Kenapa dan apakah bahaya stunting jika tidak segera mendapatkan penanganan dan intervensi yang tepat  bagi generasi kita selanjutnya??? Ya, akan menjadi PR besar jika tidak segera ditangani. Bahaya stunting mengancam anak-anak dan Bangsa. Hampir 9 juta atau lebih dari sepertiga balita Indonesia mengalami stunting. Di asia tenggara hanya laos (44%), kamboja (41%) dan timor leste (58%) yang memiliki angka stunting lebih tinggi daripada Indonesia (36%). Jika situasi ini dibiarkan mereka bisa menjadi generasi yang hilang.
Kantong stunting termasuk daerah industri dimana saat bekerja mereka hanya makan jajanan seadanya dilingkungan industry sehingga asupan gizi nya yang yang kurang baik.

Mari kita kenali apa itu Stunting…!!!
Stunting disebut juga kerdil. Stunting adalah ketika balita lebih pendek dari standart tinggi badan seumurnya. Stunting merupakan keadaan tubuh yang sangat pendek hingga melampaui defisit 2 SD dibawah median panjang atau tinggi badan populasi menurut Word Health Organization (WHO). Stunting meupakan suatu kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronik terutama pada 1000 hari pertama kehidupan dari mulai tumbuh kembang janin sampai anak usia 2 tahun. Keadaan gizi balita pendek menjadi penyebab 2,2 juta dari seluruh penyebab kematian balita di seluruh dunia.
Pertumbuhan anak merupakan salah satu indikator kesehatan masyarakat dalam pemantauan status gizi dan kesehatan dalam suatu populasi (Atsu, et al, 2017). Dalam Sustainable Development Goals (SDGs) salah satu tujuan dibidang sektor kesehatan menyebutkan target gizi masyarakat yaitu pada tahun 2030, mengakhiri segala bentuk malnutrisi, termasuk mencapai target internasional 2025 untuk penurunan stunting dan wasting pada balita dan mengatasi kebutuhan gizi remaja perempuan, wanita hamil dan menyusui, serta lansia. Oleh karena itu sampai saat ini stunting menjadi permasalahan di dunia khususnya di Indonesia yang terbukti dengan tinggi badan remaja Indonesia yang masih berada dibawah standar WHO (Kementrian Kesehatan RI, 2015).
Jika Balita mengalami stunting maka pertumbuhan fisik dan perkembangan otaknya juga terhambat sehingga mereka rentan terhadap penyakit. Akibat nya anak stunting sulit untuk berprestasi disekolah dan ketika dewasa mudah mengalami obesitas atau kegemukan. Kondisi ini menyebabkan mudahnya terpapar penyakit jantung, diabetes dan penyakit tidak menular lainnya. Dalam dunia kerja, anak stunting juga mengalami kesulitan di perekonomian/ dunia kerja. Di usia produktif ini anak stunting berpenghasilan 20% lebih rendah dari anak yang tumbuh optimal lainnya. Bagi Indonesia kondisi ini jika berlarut-larut dan dihitung secara jangka panjang maka akan merugikan negara hingga Rp.300 triliun/ tahun.
Stunting erat kaitannya dengan indikator status gizi balita yang berdasar pada indeks tinggi badan/umur sehingga memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya kronis sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama. Faktor sosio ekonomi menjadi faktor yang secara tidak langsung dan paling mendasar mempengaruhi terjadinya stunting (Armstrong et al., 2011) diantaranya yaitu tingkat pendidikan ibu, tinggi badan ibu, tingkat kemiskinan yang berhubungan dengan pendapatan (Bove et al., 2012). Studi yang dilakukan oleh (Addo et al., 2013) yakni menghubungkan tinggi badan ibu dengan perkembangan anak. Ibu dengan tinggi badan Suatu wilayah dikatakan mengalami gizi akut yaitu apabila prevalensi balita pendek di suatu wilayah kurang dari 20% dan prevalensi balita kurus 5% atau lebih (Kemenkes RI, 2017).
Hasil penelitian Analysis of Risk Factors of Stunting Among Children 0-59 Months in Developing Countries and Southeast Asia menunjukkan faktor status gizi dengan berat badan lahir < 2.500 gram memiliki pengaruh secara bermakna terhadap kejadian stunting pada anak dan memiliki risiko mengalami stunting sebesar 3,82 kali. Faktor pendidikan ibu rendah memiliki pengaruh secara bermakna terhadap kejadian stunting pada anak dan memiliki risiko mengalami stunting sebanyak 1,67 kali. Faktor pendapatan rumah tangga yang rendah diidentifikasi sebagai predictor signifikan untuk stunting pada balita sebesar 2,1 kali. Faktor sanitasi yang tidak baik memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejadian stunting pada balita dan memiliki risiko mengalami stunting hingga sebesar 5,0 kali. Kesimpulan penelitian ini adalah semakin rendahnya berat badan lahir (BBLR), tingkat pendidikan ibu, pendapatan rumah tangga, dan kurangnya hygiene sanitasi rumah maka risiko balita menjadi stunting semakin besar.

Masih bisakah Stunting  diatasi ??  dan adakah  jalan keluarnya ?
Ya, masih ada harapan dan jalan keluarnya.  Stunting bisa dicegah dengan memastikan kesehatan dan kecukupan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan. Dimulai dari janin sampai dengan anak usia 2 tahun. Ini bisa dicapai bila ibu hamil makan makanan yang bergizi seimbang terutama makanan bersumber dari protein hewani seperti ikan, ayam, daging. Hal ini diupayakan supaya bayi yang lahir sehat, selamat. Ibu juga harus  menyusui bayinya secara ASI ekslusif (o – 5 bulan 29 hari) kemudian baru melanjutkan dengan pemberian makanan tambahan pendamping ASI dengan jumlah, frekuensi, dan beragaman yang cukup dan melanjutkan ASI hingga 2 tahun.  Selain itu mereka juga harus tinggal ditempat/ lingkungan yang bersih yang memiliki jamban sehat. Agar kondisi ini terwujud, keluarga dan masyarakat perlu dukungan. Pemerintah perlu melakukan revitalisasi posyandu sebagai sarana pendidikan gizi dan pemantauan tumbuh kembang balita, melatih para petugas kesehatan dan kader agar mampu mendidik masyarakat. Memberikan dan memantau kepatuhan meminum tablet tambah darah bagi ibu hamil serta suplementasi vitamin A dan obat cacing bagi balita. Memfasilitasi masyarakat agar setiap keluarga memiliki jamban sehat serta mendidik masyarakat agar dapat mengolah air minum yang bersih dan aman. Semua kegiatan dan program di atas merupakan investasi yang sangat mengntungkan. Karena jika angka stunting dapat diturukan maka pertumbuhan ekonomi bisa ditingkatkan. Investasi mencegah stunting menguntungkan 48x lipat, artinya jika kita berinvestasi 100 juta rupiah maka keuntungannya bisa mencapai 4,8 milyar rupiah. Jadi siapapun saya, anda, kita, baik pemerintah pusat mapun daerah, anggota DPR maupun DPRD, orang tua, tokoh agama,, masyarakat, atau petugas kesehatan, pengusaha ataupun wartawan harus mulai berperan aktif dalam membantu mencegah stunting.

Ayo.. pastikan anak-anak kita tumbuh tinggi dan berprestasi tinggi.
cegah stunting itu PENTING.. ayo bantu saling peduli.. saling mengingatkan.. cukupi gizi, lengkapi imunisasi dan perbaiki sanitasi.*****Dari Berbagai Sumber (Penulis Adalah pemerhati masalah Kesehatan Ibu dan Anak)


Insiasi Kemitraan Bagi Peningkatan Kesehatan Pekerja Perempuan Di Kabupaten Sukabumi Pada era milenial ini terjadi perubahan peluang ker...