Stunting… akhir-akhir ini
begitu hangat dan viral dibicarakan sebagai isu terkini kesehatan di Dunia
termasuk Indonesia. Hampir semua orang dari mulai pemimpin negara hingga ke
desa semua mulai konsen memerhatikan dan membantu pencegahan terhadap stunting.
Kenapa dan apakah bahaya stunting jika tidak segera mendapatkan penanganan dan
intervensi yang tepat bagi generasi kita
selanjutnya??? Ya, akan menjadi PR besar jika tidak segera ditangani. Bahaya
stunting mengancam anak-anak dan Bangsa. Hampir 9 juta atau lebih dari
sepertiga balita Indonesia mengalami stunting. Di asia tenggara hanya laos
(44%), kamboja (41%) dan timor leste (58%) yang memiliki angka stunting lebih
tinggi daripada Indonesia (36%). Jika situasi ini dibiarkan mereka bisa menjadi
generasi yang hilang.
Kantong stunting termasuk daerah
industri dimana saat bekerja mereka hanya makan jajanan seadanya dilingkungan
industry sehingga asupan gizi nya yang yang kurang baik.
Mari kita kenali apa itu Stunting…!!!
Stunting disebut juga
kerdil. Stunting adalah ketika balita lebih pendek dari standart tinggi badan
seumurnya. Stunting merupakan keadaan tubuh yang sangat pendek hingga melampaui
defisit 2 SD dibawah median panjang atau tinggi badan populasi menurut Word
Health Organization (WHO). Stunting meupakan suatu kondisi gagal tumbuh pada
anak balita akibat kekurangan gizi kronik terutama pada 1000 hari pertama kehidupan dari mulai tumbuh kembang janin
sampai anak usia 2 tahun. Keadaan gizi balita pendek menjadi
penyebab 2,2 juta dari seluruh penyebab kematian balita di seluruh dunia.
Pertumbuhan anak
merupakan salah satu indikator kesehatan masyarakat dalam pemantauan status
gizi dan kesehatan dalam suatu populasi (Atsu, et al, 2017). Dalam Sustainable
Development Goals (SDGs) salah satu tujuan dibidang sektor kesehatan
menyebutkan target gizi masyarakat yaitu pada tahun 2030, mengakhiri segala
bentuk malnutrisi, termasuk mencapai target internasional 2025 untuk penurunan
stunting dan wasting pada balita dan mengatasi kebutuhan gizi remaja perempuan,
wanita hamil dan menyusui, serta lansia. Oleh karena itu sampai saat ini stunting
menjadi permasalahan di dunia khususnya di Indonesia yang terbukti dengan
tinggi badan remaja Indonesia yang masih berada dibawah standar WHO (Kementrian
Kesehatan RI, 2015).
Jika Balita mengalami
stunting maka pertumbuhan fisik dan perkembangan otaknya juga terhambat
sehingga mereka rentan terhadap penyakit. Akibat nya anak stunting sulit untuk
berprestasi disekolah dan ketika dewasa mudah mengalami obesitas atau
kegemukan. Kondisi ini menyebabkan mudahnya terpapar penyakit jantung, diabetes
dan penyakit tidak menular lainnya. Dalam dunia kerja, anak stunting juga
mengalami kesulitan di perekonomian/ dunia kerja. Di usia produktif ini anak
stunting berpenghasilan 20% lebih rendah dari anak yang tumbuh optimal lainnya.
Bagi Indonesia kondisi ini jika berlarut-larut dan dihitung secara jangka
panjang maka akan merugikan negara hingga Rp.300 triliun/ tahun.
Stunting erat
kaitannya dengan indikator status gizi balita yang berdasar pada indeks tinggi
badan/umur sehingga memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya kronis
sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama. Faktor sosio ekonomi menjadi
faktor yang secara tidak langsung dan paling mendasar mempengaruhi terjadinya
stunting (Armstrong et al., 2011) diantaranya yaitu tingkat pendidikan ibu, tinggi
badan ibu, tingkat kemiskinan yang berhubungan dengan pendapatan (Bove et al.,
2012). Studi yang dilakukan oleh (Addo et al., 2013) yakni menghubungkan tinggi
badan ibu dengan perkembangan anak. Ibu dengan tinggi badan Suatu wilayah
dikatakan mengalami gizi akut yaitu apabila prevalensi balita pendek di suatu
wilayah kurang dari 20% dan prevalensi balita kurus 5% atau lebih (Kemenkes RI,
2017).
Hasil penelitian Analysis
of Risk Factors of Stunting Among Children 0-59 Months in Developing Countries
and Southeast Asia menunjukkan faktor status gizi dengan berat badan lahir <
2.500 gram memiliki pengaruh secara bermakna terhadap kejadian stunting pada
anak dan memiliki risiko mengalami stunting sebesar 3,82 kali. Faktor
pendidikan ibu rendah memiliki pengaruh secara bermakna terhadap kejadian
stunting pada anak dan memiliki risiko mengalami stunting sebanyak 1,67 kali.
Faktor pendapatan rumah tangga yang rendah diidentifikasi sebagai predictor
signifikan untuk stunting pada balita sebesar 2,1 kali. Faktor sanitasi yang
tidak baik memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejadian stunting pada
balita dan memiliki risiko mengalami stunting hingga sebesar 5,0 kali.
Kesimpulan penelitian ini adalah semakin rendahnya berat badan lahir (BBLR),
tingkat pendidikan ibu, pendapatan rumah tangga, dan kurangnya hygiene sanitasi
rumah maka risiko balita menjadi stunting semakin besar.
Masih bisakah Stunting diatasi ??
dan adakah jalan keluarnya ?
Ya, masih ada harapan
dan jalan keluarnya. Stunting bisa
dicegah dengan memastikan kesehatan dan kecukupan gizi pada 1000 hari pertama
kehidupan. Dimulai dari janin sampai dengan anak usia 2 tahun. Ini bisa dicapai
bila ibu hamil makan makanan yang bergizi seimbang terutama makanan bersumber
dari protein hewani seperti ikan, ayam, daging. Hal ini diupayakan supaya bayi
yang lahir sehat, selamat. Ibu juga harus menyusui bayinya secara ASI ekslusif (o – 5
bulan 29 hari) kemudian baru melanjutkan dengan pemberian makanan tambahan
pendamping ASI dengan jumlah, frekuensi, dan beragaman yang cukup dan
melanjutkan ASI hingga 2 tahun. Selain
itu mereka juga harus tinggal ditempat/ lingkungan yang bersih yang memiliki
jamban sehat. Agar kondisi ini terwujud, keluarga dan masyarakat perlu
dukungan. Pemerintah perlu melakukan revitalisasi posyandu sebagai sarana
pendidikan gizi dan pemantauan tumbuh kembang balita, melatih para petugas
kesehatan dan kader agar mampu mendidik masyarakat. Memberikan dan memantau
kepatuhan meminum tablet tambah darah bagi ibu hamil serta suplementasi vitamin
A dan obat cacing bagi balita. Memfasilitasi masyarakat agar setiap keluarga
memiliki jamban sehat serta mendidik masyarakat agar dapat mengolah air minum
yang bersih dan aman. Semua kegiatan dan program di atas merupakan investasi
yang sangat mengntungkan. Karena jika angka stunting dapat diturukan maka
pertumbuhan ekonomi bisa ditingkatkan. Investasi mencegah stunting
menguntungkan 48x lipat, artinya jika kita berinvestasi 100 juta rupiah maka
keuntungannya bisa mencapai 4,8 milyar rupiah. Jadi siapapun saya, anda,
kita, baik pemerintah pusat mapun daerah, anggota DPR maupun DPRD, orang tua,
tokoh agama,, masyarakat, atau petugas kesehatan, pengusaha ataupun wartawan
harus mulai berperan aktif dalam membantu mencegah stunting.
Ayo.. pastikan anak-anak kita tumbuh tinggi dan berprestasi tinggi.
cegah stunting itu
PENTING.. ayo bantu saling peduli.. saling mengingatkan.. cukupi gizi, lengkapi
imunisasi dan perbaiki sanitasi.*****Dari Berbagai
Sumber (Penulis Adalah pemerhati masalah Kesehatan Ibu dan Anak)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar